Teori Konspirasi Bumi Datar Melawan Tradisi Science

dodiek, 20 Apr 2020, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

OPINI - Bumi berbentuk bulat, tapi tidak sepenuhnya mutlak di terima semua manusia, karena ada teori lain yang berseberangan, yaitu teori bumi berbentuk datar. 

Kedua teori bentuk bumi tersebut, nasibnya tidak sama. Dari TK hingga SLTA, diajarkan bumi berbentuk bulat, dan ajaran itu tidak pernah berubah sampai saat ini. Bahkan, sejak jaman VOC, ajaran bumi berbentuk bulat sudah dipatenkan.

Sedangkan teori bumi berbentuk datar, justru sebaliknya, tersebar di luar dunia pendidikan, terutama di medsos, itupun dipenuhi pro kontra. Ujungnya, terjadi perdebatan tiada akhir antara penganut teori bumi bulat versus bumi datar.

Teori bumi datar bukan sekedar teori tanpa pengetahuan umum, justru sebaliknya. Dari teori phytagoras untuk mengukur curvature atau lengkungan bumi hingga hukum archimedes, digunakan penganut teori bumi datar melawan teori bumi bulat.

Penganut teori bumi datar meragukan kisah Galileo yang seolah di hukum oleh otoritas agama, karena menyatakan kebenaran bumi mengelilingi matahari atau disebut heliosentrik, lewat pembuktian stellar parallex. Keraguan tersebut merujuk buku “The Genesis of Science”, yang terjadi justru sebaliknya, Galileo gagal membuktikannya.

Heliosentrik adalah teori yang menyatakan matahari sebagai pusat peredaran benda ruang angkasa, termasuk bumi. Teori tersebut telah ada sejak 2500 tahun lalu, yang dirumuskan Martianus Capella, seorang penyembah dewa matahari. Sedangkan menurut historis lainnya, awalnya ditemukan Copernicus (1473-1543), dan dilanjutkan Galileo (1564-1642).

Yang paling kontroversial, teori bumi datar menolak teori gravitasi, dan menganggap gravitasi hanyalah asumsi di atas asumsi. Selain menolak teori gravitasi, penganut teori bumi datar mempertanyakan general relativity atau teori relativitas, yaitu teori geometri mengenai gravitasi yang diperkenalkan Albert Einstein di tahun 1916.

Tak hanya itu, teori terjadinya gerhana matahari dan bulan, sebagaimana pengetahuan umum menjelaskannya, tak sejalan dengan teori bumi datar. Bahkan, NASA dianggap mencontek teori siklus saros yang digunakan bangsa Babylonia di masa lalu.

Bantahan teori bumi bulat yang paling fenomenal, terjadi tahun 1838, saat Samuel Birley Rowbotham melakukan percobaan bedford level, dan mengklaim, sekaligus membuktikan bumi berbentuk datar. 

Rowbotham melakukan percobaan dengan berdiri di dasar sungai, sambil memegang teleskop 8 inci di atas air, untuk melihat kapal yang mengibarkan bendera putih setinggi 3 kaki, dan sejauh 6 mil. Hasilnya, berdasarkan teori lengkungan bumi, puncak tiang bendera seharusnya berada 11 kaki di bawah cakrawala, sebaliknya bendera putih masih terlihat.

Selain itu, penganut teori bumi datar menyandingkan hukum diamagnetik dengan teori pasang surut akibat pengaruh gravitasi bulan. Diamagnetik ialah bahan yang sedikit menolak garis gaya magnetik.

Air adalah salah satu benda bumi yang memiliki sifat diamagnetik alami, karena memiliki sifat menolak magnet, meski sangat lemah. Matahari dan bulan memiliki elektromagnetik yang tinggi, sedangkan garam memiliki efek memperkuat medan magnet pada suatu benda. 

Yang hingga saat ini menjadi multi tafsir, ialah wawancara Admiral Richard E. Byrd di televisi Harian Chile tahun 1957, ia menyatakan statement yang mengejutkan, "Amerika perlu melakukan tindakan defensif terhadap serangan udara musuh yang datang dari kutub selatan". Musuh yang mana? Kenapa dari kutub selatan? Misteri ini masih belum terjawab hingga sekarang.

E. Byrd melakukan penjelajahan dalam operation highjump ke Antartika tahun 1946 hingga 1947, dan ia tercatat sebagai penerbang pertama yang terbang ke Artik dan Antartika.

Selain mempertanyakan berbagai teori, penganut bumi datar meyakini adanya teori konspirasi dibalik munculnya teori bumi bulat. Konspirasi tersebut bersumber dari skenario yang dibuat Elite Global.

Keberadaan Elite Global, diyakini terhubung erat dengan Iluminati dan Freemason, keduanya memiliki peran besar membuat gonjang-ganjing di muka bumi ini. Dari peristiwa berdirinya Bank Central Amerika hingga mata uang tunggal Eropa atau Euro, dan di masa depan, Elite Global diramalkan bakal meluncurkan mata uang tunggal dunia.

Selain keberadaan Elite Global, penganut teori bumi datar tidak mempercayai eksistensi astronout di luar angkasa, dan menganggapnya hanya fiksi ilmiah dari kebohongan yang di buat NASA.

Foto maupun video bentuk bumi bulat hingga eksistensi luar angkasa dan keberadaan astronout melayang di dalam atau luar pesawat, diyakini penganut teori bumi datar, berasal dari teknologi CGI (Computer Generated Image). 

Hal itu didasari teori keberadaan kubah bumi yang tak dapat di tembus, termasuk satelit dan pesawat luar angkasa. Di atas kubah bumi, diyakini bukan luar angkasa seperti foto-foto atau video-video yang kita lihat di berbagai media, melainkan air, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai mitologi yang berkembang di masa lalu.

Gugatan pengetahuan umum yang tak kalah mengejutkan, teori bumi datar mengklaim, ukuran matahari tak sebesar dan tak sejauh yang diketahui semua orang. 

Dalam pengetahuan umum, matahari berdiamater 1,3 juta kilometer atau 109 kali diameter bumi, dan berjarak 149,6 juta kilometer dari bumi, sedangkan bulan berdiameter 3.474 kilometer atau seperempat lebih diameter bumi, dan berjarak 384.400 kilometer dari bumi.

Menurut teori bumi datar, diameter matahari dengan bulan, hampir sama, sekitar 50 kilometer, sedangkan jarak keduanya dari permukaan bumi, hampir sama, sekitar 5.000 kilometer, bisa dibilang, matahari dan bulan ukurannya jauh lebih kecil dibanding ukuran yang tercantum dalam pengetahuan umum.

Tidak hanya itu, menurut pengetahuan umum, cahaya bulan berasal dari pantulan cahaya matahari, tapi teori bumi datar mengatakan, bulan memiliki cahaya sendiri. Hal itu dibuktikan lewat pengukuran suhu, cahaya bulan tidak sama dengan cahaya matahari, ketika thermometer diletakkan tertutup dari cahaya bulan, dan diletakkan terbuka mengenai cahaya bulan, hasilnya menunjukkan suhu dari cahaya bulan lebih dingin, hal itu membuktikan cahaya bulan bukan berasal dari pantulan cahaya matahari.

Perdebatan teori bentuk bumi antara Flat Earth versus Globe Earth tetap menarik hingga saat ini, karena keduanya berdebat menggunakan pengetahuan umum, teori pembenaran dilawan teori bantahan. (dodik)

 

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu